Cermin

Piagam Maiyah – Towards a Better New Order

 

Oleh: Rio NS

Setelah sebelumnya dilakukan sosialisasi di Macapat Syafaat, pengumpulan usulan bagi penyusunan Piagam Maiyah dilaksanakan di Padhang mBulan, Bangbang Wetan dan Damar Kedhaton. Bagi mereka yang sering merapat di forum / rutinan Maiyah, kegiatan serupa bukanlah kali pertama. Rasa memiliki dan keterlibatan memang menjadi semacam “CMYK”, warna baku dalam hidup bermaiyah.

Menukik ke Piagam Maiyah (selanjutnya PM), muncul pertanyaan untuk apa dan seberapa tinggi kadar urgensinya ?

Pertanyaan tersebut memancar dari pemahaman bersama yang telah digariskan beberapa waktu lalu. Yakni bahwa Jama’ah Maiyah menetapkan dirinya bukan sebagaimana layaknya organisasi baku. Ia adalah satu entitas yang lebih tepat disebut sebagai organisme. Sama sekali bukan organisasi yang rigid, selayaknya definisi umum yang kaku.

Urutan logisnya, kalau organisme, ngapain juga ada yang riweh-riweh macam ini. Kalau ada PM setelah satu bulan lalu perwakilan beberapa simpul datang ke Jakarta untuk mengadakan Rembuk Maiyah, apa sebenarnya perbedaan definitif dan substansi kita (organisme) dengan mereka (organisasi) ?

Saya coba berempati terhadap pertanyaan-pertanyaan bernada gugatan tersebut dengan jawaban dan pendekatan berdasarkan ilmu yang selama ini dipakai untuk mempelajari organisme, ilmu hayat atau biologi.

Secara sederhana, organisme diartikan sebagai makhluk hidup. Padanya melekat beberapa penanda pasti. Sebagian dari itu adalah: bernafas, metabolisme, bertumbuh, berkembang biak, proses pencernaan makanan, dan peka terhadap rangsang. Kesemua ini ada pada organisme paling sederhana hingga complex organism yang iblis pun iri atas penciptaannya.

Satu hal yang bisa dipastikan ada pada kehidupan organisme adalah mekanisme tertentu dan koordinasi yang terjalin rapi antar bagian-bagiannya. Hal ini berlangsung sangat rapi serta memiliki kontinuitas yang terjaga sampai satu batas definitif yang membuatnya tak lagi disebut sebagai bernyawa. Masing-masing bagian dalam kerja bareng itu tak sekalipun meneriakkan protes atau usulan tentang fungsi dan peran eksklusifnya. Perkecualian bisa terjadi bila datang usikan karena trauma, masuknya anasir asing atau anomali tertentu yang multifaktor sebab musababnya.

Kalau memang contoh diperlukan, kita ambil saja satu rangkaian proses yang setiap kita di setiap saat mengalaminya. Proses pencernaan. Ini adalah satu bagian dari berpuluh bagian lain dalam tubuh satu organisme bernama manusia.

Dalam proses pencernaan, dua faktor yang berperan penting adalah sistem persyarafan dan hormonal. Rangkaian proses ini berlngsung sejak tubuh merespons makanan dari tampilan, aroma dan teksturnya. Fase yang didebut fase cephalic ini terjadi karena adanya rangsang yang dikirm dari indera penglihatan, penciuman dan peraba serta reaksi alamiah dimana kelenjar-kelenjar hormon di mulut memberikan reaksi berupa sekresi air liur.

Pada saat yang sama, lambung menyiapkan dirinya dengan mulai memancarakan enzim-enzim tertentu serta asam lambung. Aktivitas ini terus berlanjut ketika makanan masuk ke dalam organ yang penggambarannya sudah sangat kita kenal. Fase gastric akan berakhir pada waktu makanan dikirimkan ke usus halus.

Sejak makanan secara FIFO masuk ke usus dua belas jari, lanjut ke jejunum dan ileum, makanan (tepatnya chyme), berada pada fase intestinal. Ketiga fase di atas berjalan simultan namun juga tumpang tindih. Maksudnya, fase berikutnya bisa dimulai saat fase sebelumnya sedang berjalan. Ada satu fase lagi yang menyertai 24 jam hidupnya organ pencernaan. Fase ini disebut sebagai fase basal. Merupakan apa saja yang terjadi setelah proses pengosongan lambung tuntas dijalankan.

Proses pengolahan makanan yang dipaparkan di atas adalah gambaran kecil betapa setiap bagian dalam tubuh organisme patuh, setia, dan secara berkelanjutan menjalankan sunnatullahnya. Secara fisiologis, adanya diskresi dan malfungsi dari satu bagian saja akan memberikan dampak yang tidak diinginkan, mengganggu, menyakitkan hingga dimungkinkan efek mematikan.

Kembali ke PM, pilihan kita adalah menyambutnya dengan suka cita dan berperan serta untuk memberi asupan ide dan pemikiran. Serta, pada gilirannya, ikhlas menjadikannya panduan ketika traktaat atau paugeran ini telah dideklarasikan.

 

Penulis adalah, penggiat BangbangWetan yang menemukan keseimbangan diri pada musik rock dan sastra. Bisa disapa melalui akun Facebook: N Prio Sanyoto.