Kolom Jamaah

Sakproteloning Tigan

Sinau Wayang #9

Oleh: Rahadian Asparagus

Bumi bergetar. Langit sesekali gelap, sesekali terang. Gunung-gunung bergoyang, seperti hendak tercerabut dari pasak penyangganya. Deburan ombak menerjang dan mendera bibir pantai. Udara semakin pengap, lidah api seakan menjuntai menjilat apapun di depannya.

Samudra seperti direbus di tungku raksasa, mendidih. Kilat layaknya pedang tajam membelah dan mencincang awan-awan menjadi bentuk tak beraturan. Benturan antara air dan udara menciptakan badai yang bersahutan laksana serigala yang melolong panjang di keheningan malam.

Para makhluk di segala sudut ruang, lari tunggang langgang, berniat mengungsi tetapi bingung hendak ke mana. Lumpur panas seakan menyimpan dendam pada semua yang bermukim di atasnya. Ditenggelamkannya seluruh padatan di permukaan, hingga setinggi leher dan kepala.

Sebegitu kacau-balaunya. Demikian porak-poranda. Tak terbayangkan carut-marutnya. Namun, itu semua adalah awal dari damai yang didamba.

***

Kisah ini bermula di suatu tempat yang bernama Kahyangan, satu tempat di mana bumi disangga. Dari sini pula bumi pulih dari kerusakannya. Tersebutlah raja dari Negeri Balgedeba yaitu Prabu Candradimuka. Seorang raja  pilih tanding  yang tak pernah terkalahkan seumur hidupnya. Semua raja dan orang sakti di muka bumi tak luput dari keampuhan ilmu kanuragan yang dimilikinya.

Hanya satu raja yang belum dia jajal kesaktiannya, yaitu empunya para dewa, Sang Hyang Wenang atau Sang Hyang Jagad Wenang. Dengan obsesi meluap-luap, Raja Candradimuka membuat ontran-ontran agar menarik perhatian sang raja dewa tersebut. Diserangnya kenyamanan tempat bermukim para dewa, Jonggring Saloka. Seketika, keadaan menjadi kisruh. Pancingan dari Prabu Candradimuka akhirnya berhasil. Sang Hyang Wenang pun akhirnya turun tangan.

Perang tanding pun tak terelakkan. Keduanya punya kekuatan yang hampir seimbang dalam beradu kesaktian. Tampak dari permukaan bumi, kilatan cahaya merah milik Prabu Candradimuka dan cahaya kuning kepunyaan Sang Hyang Wenang saling bersahutan. Sesekali kedua cahaya itu berbenturan dan menghasilkan suara yang sangat memekakan telinga.

Sang Hyang Wenang tampaknya sedikit kewalahan oleh kemampuan bertarung Prabu Candradimuka. Di saat genting dan terdesak, empunya para dewa tersebut melemparkan telur berwarna kuning keemasan yang bernama Cikal Kayun atau benih kehidupan.

Tampaknya Prabu Candradimuka yang merasa di atas angin meremehkan ajian yang dikeluarkan Sang Hyang Wenang. Bagaimana tidak, ajian Guntur Geni, Bayu Bajra, dan sederet kesaktian sang raja dewa tak sedikitpun menggores kulit penguasa Negeri Balgedeba itu. Apalagi cuma seonggok telur? “Cemen sekali kesaktian raja dewa ini, gitu kok ngaku raja,” pikir Prabu Candradimuka. Dengan menggunakan setengah dari kekuatannya,  Prabu Candradimuka menahan lesatan telur yang mengarah ke tubuhnya. Sebuah tindakan yang akan membuatnya menyesal.

Kriwikan dadi grojogan, guyonan dadi tangisan, nasi terlanjur menjadi bubur. Ketika telur itu menghantam sang prabu, seketika tubuhnya hancur lebur, berserakan tak berbentuk. Keping-kepingnya lalu menghantam bumi dan menjadi telaga api yang melegenda di jagad pakeliran bernama Kawah Candradimuka. Kawah yang mempunyai daya sakti bernama Endut Balgedeba. Sepertinya kita tak perlu penjelasan lagi bagaimana nantinya peran sang kawah dalam meramu para satria yang ngenger di dalamnya.

Kita kembali ke telur yang menghantam Prabu Candradimuka. Setelah menghantam badan Sang Prabu, telur berwarna kuning keemasan itu tiba-tiba menetas. Cangkangnya berubah menjadi Bathara Tedjomantri atau Bathara Antaga. Ratusan tahun kemudian ia berjuluk Ki Lurah Togog dan bertugas momong satria berwatak kiri atau biasa disebut bolo kiwo.

Bagian putih pun demikian, dia berubah menjadi Bathara Ismaya atau Bathara Purwakanda. Sama seperti kakak cangkangnya, ratusan tahun yang akan datang, dia bergelar Ki Lurah Semar atau Ki Lurah Bodronoyo. Berkebalikan dengan sang kakak, Semar bertugas momong satria berbudi pekerti luhur atau biasa disebut bolo tengen.

Dan, yang terakhir, bulatan kuningnya seakan tak mau ketinggalan. Dia berubah menjadi Bathara Manikmaya atau Sang Hyang Girinata. Kelak dia akan menjadi suksesor Sang Hyang Wenang untuk momong para dewa dan bergelar Bathara Guru.

Dari proses menetasnya telur Cikal Kayun tersebut, jagad pewayangan bermula. Banyak intrik bermunculan dari ketiga tokoh tersebut.

Kali ini saya akan membahas salah satu dari ketiga tokoh tersebut. Seorang pesohor dunia pewayangan idola banyak orang. Ya, Semar! Perlu diketahui, Semar banyak jumlah juga macamnya. Salah satunya adalah dia yang menatapmu dengan tajam dari belakang hingga bulu kudukmu berdiri. Ada juga yang sekadar menempatkannya di dinding sebagai ornamen penghias ruang tamu belaka.

Aneka ragam sifat Semar sama seperti bermacam-macamnya kemampuan kita memahaminya. Ada yang sekadar tahu bahwa dia adalah lelaki dengan sindrom obesitas, yang karena overweight-nya ada lelehan lemak di sudut matanya.

Ada pula yang memilih menjadikannya teladan dalam hidup. Mulai dari kesetiaan dalam cinta, ekspresi marah penuh kasih, polah tingkah lucu dan menggemaskannya, atau sifat bijak bestari kekanak-kanakannya.

Sebagian yang lain menjadikannya tokoh pilih tanding. Bersikap seakan memuja dan menjual semua quote Semar ke para awam adalah suatu keharusan. Ironisnya, setelah berhasil menempati posisi atau mendapatkan aset tertentu, mereka lupa dan meninggalkan ayah dari Gareng, Petruk, dan Bagong ini.

Saya teringat pesan almarhum Bapak saya–Al Fatihah dan cinta untuknya–mengenai ketiga prominen yang lahir dari telur kuning itu. “Anakku, jangan sembrono dulu menghakimi Batara Guru sebelum sampai ke beningnya air mata Sang Semar. Jangan pula mengaku telah bersemayam di Semar sebelum menembus tawa renyah Sang Togog. Mereka tak sesederhana yang kau pikirkan”.

—Tancep Kayon—

Penulis adalah lulusan teknik informatika yang lebih asyik dengan pencarian makna di jagad pakeliran. Hari-harinya banyak dihabiskan bersama keluarga dan kawan-kawan di Majelis Maiyah Balitar. Bisa dihubungi melalui akun FB: aspaholic rahadian dan IG @aspaholic.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *