Kolom Jamaah

Santri Bonek – Amul Huzni (2)

Kemlagen #14

Oleh: Samsul Huda

“Stabilitas” hidup santri terletak pada hal sederhana yaitu terpenuhinya kebutuhan satu bulan ke depan. Bila hal ini tersedia, alokasi tenaga dan pikiran tinggal diarahkan untuk belajar dan mengaji. Kebutuhan tersebut dari sejak saya mondok sampai generasi millenial tidak berubah, yakni uang. Alat tukar ini dibutuhkan untuk membayar syahriyah pondok dan sekolah, membeli  buku, kitab dan perlengkapannya serta kebutuhan makan dan jajan.

Karena kiriman uang dari Emak dan Bapak tidak mencukupi untuk kebutuhan dasar hidup di Pondok maka saya harus mencari tambahan. Jalan untuk mendapatkan tambahan uang hanya satu, bekerja. Ya, bekerja. Hanya dengan bekerjalah saya akan mendapatkan uang secara terhormat dan bermartabat. Lantas bagaimana saya bisa bekerja? Situasi saat itu, saya masih kelas 2 MA dan tinggal di pondok pesantren dengan aturan dan jadwal kegiatan sangat ketat.

Namun Tuhan selalu punya jalan keluar yang tak jarang unik. Saat  liburan tiba, saya putuskan untuk tidak pulang kampung dan memilih mencari kerja. Masalahnya, mencari kemana? Saya bingung, tidak tahu harus kemana dan kerja apa. Terlintas ingatan akan seorang. teman sebaya yang rumahnya persis di samping kanan rumah saya di Lamongan yang di kemudian hari saya “fasilitasi” menikahi gadis tetangga saya di Kutorejo Mojokerto.  Sodikin namanya. Ia bekerja di Surabaya sebagai Abang becak. Becak “engkol” tentunya, kendaraan jasa angkutan publik roda tiga tenaga manusia.

Berangkatlah saya ke Surabaya dan sampai di terminal Joyoboyo. Waktu itu belum ada terminal Purabaya untuk bus antar kota dalam maupun antar provinsi (AKDP dan AKAP) Surabaya. Riuh rendah kondisi membuat kebingungan saya mengalami kenaikan tak terkira. Kalau naik bus kota, bus kota yang mana ? Bila memilih “len” (angkot) pakai yang warna atau jurusan apa ?. 

Saya coba mendapat jawaban dengan  mengingat-ingat kembali obrolan kami di  momentum Idul Fitri. Waktu ketika Sodikin dan semua anak rantau pulang kampung. Hari-hari menapak tilas tidur, bercerita dan main tebak-tebakan di masjid.

Bertolak dari “pemusatan pikiran” itu, saya dekati calo / makelar penumpang angkot yang sedang menjalankan tugasnya.. “Kenjeran-kenjeran, Jangan-Karang Menjangan, Pasar turi- pasar turi, Perak-perak”. Begitu teriakan mereka untuk mendapatkan penumpang.

Lalu saya ditanya oleh salah seorang dari mereka, “Kate nangdi, le” (mau kemana Naaak). “Geh niku sing kulo bingung” (ya, itu yang saya bigung) jawabku. “Bingung yo opo seh, lee” (bingung bagaimana sih, nak ?), sergapnya. “Kulo lali alamate konco kulo” (saya lupa alamat temanku) jawabku lagi. “Lah, Nek gak weru alamate Yo gak iso tutuk Lee…” (wah, kalau tidak tahu alamatnya, ya nggak akan bisa sampai, nak) timpalnya.

Dari situ, saya menemukan ide. Semacam “metodologi bertanya” agar bisa segera mendat petunjuk soal angkot yang harus dinaiki. “Pak,…tolong sebutkan beberapa nama atau tempat yang akan dilewati oleh masing-masing len / angkot  ini, Pak” pintaku padanya. Lalu dia menyebutkan “Ngagel? Keputih Petemon? Pasar kembang? Pandegiling? Pucang Anom? Pasar Pucang Anom”.

Stop! Sampun Paak!” kataku. Entah bagaimana, ada semacam kombinasi antara ingatan, angan-angan dan nurani. Singkat kata, saya putuskan untuk memilih angkot dengan rute yang melewati atau tujuan akhirnya adalah Pucang Anom.

Dengan Lyn P, saya turun di perempatan Pucang Anom dan lagi-lagi bingung. Pasalnya, saya tidak memiliki alamat  yang jelas dan pasti. Yang masih saya ingat adalah dia mbecak di sekitar pasar Pucang Anom. Akhirnya saya berjalan menuju keramaian pasar sambil menanyakan hampir ke semua Abang becak identitas teman saya itu. Tidak ada yang tahu dan mengenalinya. Sekian lama dalam sedih dan kebingungan, tiba-tiba saya lihat dia datang dengan becaknya menuju jajaran becak-becak yang mengantri datangnya penumpang.

Betapa terkejutnya Sodikin ketika saya dekati. Ia seperti tidak percaya kalau yang menemuinya itu adalah saya, tetangga rumahnya yang masih belajar di pondok pesantren. Kami pun bersalaman dan dia mengajak saya ke warung nasi langganannya.

Di warung itu kami ngobrol ngalor-ngidul saling bercerita. Endingnya, saya butuh uang. Saya harus belajar mbecak, mencari dan mengantarkan penumpang dengan mengayuh kereta roda tiga serta mendapatkan uang sebagai imbalannya.

Alhamdulillah, besoknya saya sudah mendapat becak “warnen” (becak yang penyewa tetapnya libur sementara). Mulailah saya mbecak.  Menelusuri kota Surabaya dalam “kebutaan” arah dan jalan dalam rangka mencari penumpang. Penumpang mau diantar kemana, tidak tahu lokasinya. Jauh dekatnya tujuan saya juga buta apalagi proses tawar menawar untuk menentukan tarifnya. Dalam “kegelapan” itulah saya mbonek (bondo nekat, modal tekad). Iya, hanya nekad modal utama dan satu-satunya yang saya miliki.

Dari situlah saya tahu daerah Pucang Jajar, Karang Menjangan, Ngagel Jaya, Ngagel Dadi, Ngagel Rejo, sampai ke pasar  . Satu pengalaman tidak terlupakan adalah di suatu siang bulan puasa, saya harus mengantar penumpang melewati dan menyebrang rel kereta api yang menanjak naik di daerah Ngagel Kuburan. Begitu melihat curamnya tanjakan, saya tarik nafas dalam-dalam sambil berdoa dalam hati agar berhasil melewati tantangan ini. Walau dengan harap-harap cemas, alhamdulillah, saya berhasil melewatinya. Penumpang nyaman, saya pun riang menerima bayaran.

Dengan perkenan Allah Swt, hari demi hari terlewati. Saya melaluinya dengan penuh harapan untuk bisa balik ke pondok pesantren dengan membawa uang. Ya, saya harus membawa uang untuk kebutuhan dan biaya mondok. Harapan inilah yang membuat saya kuat menjalani kehidupan sebagai abang becak.

Begitu liburan berakhir, saya langsung kembali ke pondok dengan membawa uang hasil cucuran keringat sendiri. Sesampainya di sana, kembali saya jalani kehidupan di pesantren seperti biasanya. Tak seorang pun teman, guru-guru apalagi keluarga yang saya informasikan mengenai pengalaman mbecak selama liburan di Surabaya.

Bahkan sampai hari ini ketika sepenggal kisah hidup itu saya tuliskan. Saya ceritakan dengan harapan bisa menjadi pelajaran hidup yang berharga dan bermanfaat bagi anak cucu dan anak-anak ideologis saya.

Berbekal mbecak di pasar Pucang Anom Surabaya itu pula yang menginspirasi saya untuk berani daftar kuliah dimana saja. Alasannya sederhana: karena pada saat itu becak ada di setiap kota dan bebas beroperasi sehingga saya tidak perlu khawatir akan biaya hidup dan kebutuhan kuliah lainnya. Asalkan bisa dapat sewaan becak, insya Allah aman segalanya !

Surat Yasin (36) Ayat 12

إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَـٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَـٰهُ فِىٓ إِمَامٍۢ مُّبِينٍۢ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)”.

—oOo—

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto

One thought on “Santri Bonek – Amul Huzni (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *