Kolom Jamaah

Yang Abadi Cuma Nestapa, Drupadi

Sinau Wayang #7

Oleh: Rahadian Asparagus

Di balairung Astina Pura, dengan rambut kusut masai, di tengah tatapan nanar mata Duryudana dan berpuluh adiknya, Drupadi terdiam dalam hening kengerian. Ngeri akan terkaman malu bila kain sari berwarna merah itu telah direnggut dari tubuh kurva sempurnanya.

Narayana, Narayana, Narayana…

Penguasa Dwarawati, Batara Kresna…
Tidakkah Engkau tahu betapa hina Kurawa di perilaku mereka

Madhawa, lindungi aku dari malu…
Ulah sembilu keturunan Kuru…

Kresna, engkaulah roh suci…
Jiwa cakra pelindung bumi…
Enyahkan aib di tembikar raga putri
Kumohon padamu, sekali lagi…

Narayana, Narayana, Narayana.

Drupadi, yang lahir dari api murni, kian sadar penghinaan itu pasti datang. Berharap hadirnya dewa penolong hanya kesia-siaan. Di atas meja dadu, harkatnya sedang dipertaruhkan.

Kelima yeobo Pandawa dari si sulung Puntadewa hingga si bungsu kembar Nakula- Sadewa seperti mengalami kelinglungan pikir luar biasa. Mereka tak ubahnya batang- batang lidi bernapas tak berdaya.

Dalam keheningan dengan napas sesak oleh kepedihan, putri Raja Pancala itu hanya meratap sesenggukan.

Narayana, di manakah diri-Mu?

Aku memohon kepada-Mu
Cukuplah Kau sebagai pelindungku
Aku tak bisa berbuat apa-apa…
Diperlakukan tidak sepantasnya
Bak si jalang di jaring pemburu istana
Biarlah kupilih datangnya dewa kematian
dan bukan hinaan mereka

Oh, Kresna…

Satu, dua, lima, sembilan… dan kain sari merah kian terlepas dari tubuh indah perempuan yang dimenangkan oleh Arjuna dalam swayamvara. Tapi aneh, setiap Dursasana menarik lilitan kain pembungkus raga Drupadi, muncul bentangan kain baru dan menutupi tubuh lembut laksana bunga kamboja. Hal ini terus berlangsung tak pernah putus.

Tubuh yang bergetar dan gemetar terus berputar di antara kata-kata kasar dan  tawa yang menggelegar. Drupadi tetap tegar, tiada pernah gentar. Dursasana yang konon kekuatanya setara Bima akhirnya terkapar kehabisan tenaga. Ini sungguh tak masuk akal.

Kiranya Sri Bathara Kresna melindungi kulit mulus Drupadi dengan berlembar kain. Satu kekuatan agung yang menyelamatkan kehormatan pelaku poliandri era pakeliran.

Berikutnya, Drupadi yang menangis pilu bangkit. Dengan jari lentiknya, diusap pucat pasi wajahnya. Dengan lantang ia ucapkan:

Aku, menantu langsung dinasti Kuru
Aku, kebanggaan anak-anak Pandu
Tetapi aku dibawa ke tempat ini layaknya babu

Kebiadaban macam apa ini?
Penghinaan macam apa sedang terjadi?

Kakek Bisma, Paman Widura, juga kau Guru Durna
Kenapa kalian diam saja?
Kenapa mulut kalian kering kata?

Pula kau, Raja Drestarasta
Kenapa kau tak coba hentikan mereka?

Anak-anak yang kau begitu bangganya
melakukan begitu banyak dosa

Di istana ini aku ternodai
Kini, aku tak lagi bersuami
Kini, aku tanpa nama tanpa dinasti

Semua terdiam. Jiwa para penghuni istana seperti tenggelam. Karam di selat antara sedih dan dendam.

Di luar, angin laut bertiup. Dewa Candra yang semula memancar megah, kini redup. Malu. Drupadi kembali berseru dengan pilu:

Semua! Semua melihat kebiadaban ini, bukan?
Penghinaan kepadaku, Drupadi
Tapi tak satupun yang peduli

Aku Drupadi
Lahir dari api suci Dewa Agni
Akan selamanya suci

Aku Panchali
Ketika lahir, tiga dunia memberkati
Akan menjadi penyebab hancur leburnya keturunan Kuru yang hina ini

Dan kini, tibalah saat itu bermula
Amarahku, murkaku!

Dengarkan kutukanku!

Bermula dari kini
Yang hanya diam, akan mati
Juga semua di paseban ini

Aku tak akan pernah menggelung rambutku
Sebelum dibasuh oleh darahmu, Dursasana
Duryudana, kau akan dibayar impas atas semua kejahatanmu
Begitupun kau, Paman Sengkuni
Juga dirimu, Adipati Karna

Kelak, akan ada pertumpahan darah di kemudian hari

Wahai yang mulia Raja Drestarasta, kerajaanmu akan hancur tak bersisa Kelak anak-anakmu juga

Dan aku yang akan membakarnya
Karena aku bukan lagi manusia
Akulah api yang menyala-nyala

Samudra mendidih, kilat membelah, dan petir memecah udara. Bimasena, tiba-tiba berdiri. Dengan mengeraskan suara, tampak amarah menggelayuti  bulir-bulir aliran darahnya.

“Kalian yang ada di balairung ini, dengarkan sumpahku! Kelak dalam perang yang menentukan di Padang Kurusetra itu, akan kucabik-cabik dada si durjana, Dursasana. Setelahnya akan kureguk setiap tetes darahnya. Dan kau, Duryudana, siapkan pahamu, karena nanti akan kuremuk dengan gada Rujak Polo-ku”.

Tidak ketinggalan, sang lelananging jagad, Arjuna berdiri dan berkata:

“Dengarkan janjiku ini, Drupadi, setiap helai rambut panjangmu akan mengingatkan kami suamimu pada tujuan akhir: Bharatayudha. Di medan perang itu kalian semua yang ada di sini akan melihat sungai-sungai yang berubah menjadi merah darah dan gundukan tanah menggunung yang tersusun dari kepala!”.

Puntadewa, sang raja berdarah putih. yang tak pernah murka masih diam mematung. Baginya, dendam adalah sesuatu yang tidak berguna dan sia-sia.

Itulah kisah tentang Drupadi sang putri api. Di jiwanya ada api dendam yang tak pernah padam. Mungkin jika tak ada kepedihan dan penderitaan hebat yang dialami putri raja Drupada itu, tak akan ada perang suci Bharatayudha. Mahabharata akan menjadi kisah yang menjemukan antara dua saudara yang berebut tahta. Tak ubahnya sinetron di televisi nasional. Garing.

Pertanyaannya, apakah perempuan seperti Drupadi itu benar-benar ada? Seorang perempuan yang mampu mengubah jalan cerita dan menjadi tokoh utama dalam sebuah kisah.

Bagi Drupadi perang hanya melahirkan dua warna, hitam dan putih. Perang adalah perkara benar dan salah.

Hidup tidak selalu tentang memaklumi, saling mengerti, dan memaafkan. Lebih dari itu, hidup adalah perjuangan dan keberanian untuk melawan.

Memang benar, perang selalu memberikan nestapa pada ujungnya atau seperti yang disampaikan Puntadewa: “Perang adalah sesuatu yang tidak berguna. Tidak ada yang diuntungkan dalam peperangan.” Hal sama yang dialami Drupadi di akhir pertempuran saat dengan matanya ia saksikan kelima putranya terbujur layu dan kaku. Dengan itu, maka putuslah garis keturunannya. Tak satupun anaknya yang menjadi penerus tahta. Di sela kepedihannya, dia berkata:

Oh, Tuhan… Aku ingin melihat dunia dengan tenang dan terang…
Namun mengapa hanya gelap dan nestapa datang malam hingga siang? Mengapa Tuhan…?

—Tancep Kayon—

Penulis adalah lulusan teknik informatika yang lebih asyik dengan pencarian makna di jagad pakeliran. Hari-harinya banyak dihabiskan bersama keluarga dan kawan-kawan di Majelis Maiyah Balitar. Bisa dihubungi melalui akun FB: aspaholic rahadian dan IG @aspaholic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *